Blue Fire Pointer Mbah Siti dan Kucing
Posted by : hamam leha-leha Kamis, 10 Desember 2020

 

Kos Tutul

Di kos Tutul ada seorang mbah (nenek) yang hidup sendiri. Ia bernama mbah Siti. Setiap hari ia menjalani hidup dengan sederhana dan melakukan rutinitas itu-itu aja. Saking monotonnya, aku bisa memprediksi kapan dan di mana mbah Siti beraktivitas.


Kebutuhan sehari-hari mbah Siti mengandalkan dari bayaran anak kos. Kebetulan ia memiliki kos untuk disewakan, meski hanya berjumlah 6 kamar. Kosnya pun relatif murah di bandingkan dengan kos lainnya yang ada di sekitar kampus. Yang menurutku, uang kosnya hanya cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, itu pun kalau anak kos tidak telat membayar.


Mbah Siti yang ramah dan terkenal akan rasa sayangnya terhadap kucing. Suatu hari membuat saya tertegun akan ekspresi sayangnya itu. Ternyata rasa sayangnya terhadap kucing begitu besar. Bagaikan ibu yang menyayangi anaknya.


Setiap waktu makan, mbah Siti selalu memberikan jatah makanan untuk kucing-kucing. Ia taruh makanan itu di depan kamarnya. Kucing-kucing itu nanti akan sendirinya menghampiri dan memakan hidangan yang disediakan oleh mbah Siti.


Awal pertama kali aku lihat mbah Siti menanak nasi, membuatku terheran. Karena nasi yang dimasak terlihat begitu banyak. Yang dalam benakku, porsi tersebut merupakan porsi super kenyang untuk aku makan seharian. Padahal dalam pengamatanku, orang-orang yang sudah lansia biasanya berkurang atau menurun asupan makannya.


Ternyata, menanak nasi yang banyak tersebut dilakukan oleh mbah Siti bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Kucing. Itu yang aku lihat saat mbah Siti akan makan. Ia selalu membeli ikan yang dicampur dengan nasi untuk diberikan pada kucing-kucing. Aku lihat, kucing-kucing dengan lahap menyantap hidangan campuran tersebut.


Suatu sore menjelang Ashar, saat mbah Siti hendak membuka pintu garansi, ia terjatuh. Mbah Siti memang lebih suka melewati pintu garansi yang ada di belakang kos dari pada lewat depan saat ke warung Biru dan masjid. Hal ini karena faktor jarak saja, yang mana lewat pintu garansi aksesnya lebih cepat.


"Aduh…aduh…aduh" Terdengar suara yang tidak asing bagiku. Saya pun segera berhenti dari mengetik-ketik leptop dan berlari menuju arah suara yang tidak asing bagiku.


"Ya Allah, mbah. Mbah kenapa kog bisa jatuh?" Tanyaku sambil membantu mbah Siti duduk dengan posisi yang benar. Karena mbah Siti tidak merespon pertanyaanku, akhirnya saya berinisiatif untuk mengambilkan air putih.


"Mbah, ini diminum dulu air putihnya"


Setelah mbah Siti minum, barulah ia mulai berbicara.


"Aduh om, ini tadi mau buka pintu garansi, tiba-tiba si mbah kaget saat lihat luar, kayak ada bayangan orang. Karena kaget, si mbah jatuh"


"Walah mbah, yang hati-hati ya. Mbah Siti mau ke mana?" Sambil bertanya, aku menerka-nerka apa yang baru saja diucapkan oleh mbah Siti. Terdengar seram, tapi aku mencoba untuk mencari asumsi-asumsi yang tepat dalam penalaraan. Dengan melihat kondisi mbah Siti yang sudah dimakan umur. Dari situ, aku menerka bahwa mbah Siti kaget karena posisi mata yang ada di ruang gelap tidak cukup siap menerima cahaya dari luar rumah yang lebih terang.


"Mbah Siti mau ke mana?"


"Ini mau beli ikan di warung Biru"


"Buat kucing ya mbah?"


"Iya om"


"Ya udah sini, saya belikan saja mbah. Mbah Siti balik aja ke kamar, nanti ikannya saya antarkan"


Sebelum beranjak untuk ke warung Biru, aku mencoba membantu mbah Siti untuk bangun terlebih dahulu. Akan tetapi, mbah Siti belum sepenuhnya pulih energi untuk berdiri. Sehingga mbah Siti meminta untuk duduk saja.


"Mbah Siti, saya ke warung dulu ya buat beli ikan" Sambil beranjak dari duduk, saya minta izin kepada mbah Siti.


Dengan sedikit berlari-lari kecil aku segera membeli ikan sesuai pesanan mbah Siti. Lalu dengan cepat aku kembali ke tempat mbah Siti yang masih duduk di garansi.


"Ini mbah Siti, ikannya"


"Makasih om"


"Sama-sama mbah"


"Saya bantu berdiri ya mbah" Dengan cepat aku membantu mbah Siti berdiri. Ternyata butuh 10 menit untuk membantunya berdiri. Karena tangan kirinya terkilir, sehingga butuh pelan-pelan untuk membantu bisa berdiri.


Setelah berdiri, mbah Siti baru bisa jalan menuju ke kamarnya. Kebetulan kamar mbah Siti dengan kamar kos searah dan lumayan dekat.


"Saya kembali ke kamar ya mbah! Kalau ada sesuatu panggil saja saya mbah" Ucapku sambil senyum lalu putar balik menuju kamar.


Dari kejauhan, diam-diam aku mengamati keadaan mbah Siti. Terlihat ia sedang mengadukkan nasi dan ikan untuk dikasihkan pada kucing-kucing, meski ia kerjakan hanya dengan menggunakan tangan kanan. Aku lihat tangan kirinya belum bisa digerakan.


Malam harinya, saudara-saudara mbah Siti mulai berdatangan untuk menengok keadaan mbah Siti. Tangan kiri mbah Siti yang terkilir makin nampak membengkak. Ia masih belum bisa menggunakan tangan kirinya, meski sekedar untuk digerakan saja.


Tapi mbah Siti yang terbiasa sendiri untuk melakukan segala hal, tidak pernah mengucapkan keluhan atau rasa sakit pada tangannya. Ia bahkan selalu berucap "Ayu bisa-bisa, cah pinter kok" sambil tangan kanannya mengelus-elus bagian tangan kiri yang bengkak.


Di tenga-tengah akan makan malam, mbah Siti ingin ke warung Biru untuk membeli lauk dan ikan untuk kucing. Para saudaranya mencegah dan meminta diri untuk membelikannya.


Saat mbah Siti selesai makan, ia menyisakan nasi dan mengaduknya dengan ikan untuk dihidangkan kepada kucing-kucing. Itu pun ia menolak tawaran saudara-saudaranya untuk menyiapkan makan kucing-kucing. Ia aduk sendiri dengan hanya menggunakan tangan kanan.


Terlihat kucing-kucing yang dengan sabar menunggu hidangan dari mbah Siti. Saat makanan sudah ditaruh di depan kamar, kucing-kucing mulai mengerubungi dan menyantapnya dengan lahap.


Diam-diam saya mengagumi entitas rasa sayang mbah Siti kepada kucing. Nampak ada perlakuan yang seolah-olah memanusiakan makhluk ciptaan Tuhan yang berjenis binatang tak berakal. Padahal kita yang berakal pun, kadang malah berprilaku kebinatangan kepada sesama manusia.


Dari kelemahan dan keterbatasan seorang lansia justru hidup instrumen-instrumen penuh nilai kebaikan. Yang bahkan jauh dari tendensi-tendensi untuk memperoleh imbalan atau balasan.


Rasa kasih sayang kepada makhluk yang bernama kucing, mbah Siti wujudkan dengan memberi makan setiap hari. Meskipun satu-satunya penghasilan dari bayaran anak uang kos sangatlah minim dan tenaga untuk beraktivitas mulai menurun, apalagi saat tangan kirinya sakit.


Aku jadi teringat cerita guru agamaku tentang seorang wanita sundal. Suatu hari wanita sundal melihat seekor anjing di hari yang trik matahari pas dipuncak-puncaknya. Sehingga sangat panas sekali. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, lalu menimba air dengan sepatunya. Lalu diberikanlah air itu kepada anjing. Singkat cerita, saat wanita sundal meninggal dunia, Ia pun diampuni karena menolong seekor anjing yang kehausan. Dan cerita itu beberapa tahun kemudian aku temukan dalam literatur hadis Nabi Swa.


"Wow, melamun aja" Ujar Dedik yang membuyarkan proses perenunganku saat melihat kucing-kucing dengan lahap memakan ikan campur nasi.
Aku pun kembali menghadap ke layar laptop untuk mengedit tugas buku yang sempat tertunda.


#Aku tulis saat sedang di depan kamar Asyabab Krapyak

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © el_hamam - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -