- Back to Home »
- Kerisis Wejangan dari Pemimpin Negara
Ada satu hal yang menggelitik dari profil pak Anies Baswedan dimana beliau mengatakan seorang negarawan bisa memberikan motivasi yang luar biasa untuk anak-anak muda dengan hanya memberikan seberapa patah (wejangan). Dimana dalam biografi beliau menceritakan Dr. Imaduddin Abdurrahim- yang mengajar di teknik listrik ITB. " saya bertanya pada beliau (pak Anis) bagaimana bisa masuk listrik di ITB ?. Dr.Imaduddin Abdurrahim menjawab, bahwa ternyata waktu SMP atau SMA, dia dengan anak-anak laki-laki dikampungnya berjalan kaki ke bendungan Asahan untuk menyasikan pidato Bung Hatta yang meresmikan bendungan itu. Mereka datang bukan karna Bendungan Asahan, tepi karna Bung Hatta mau datng. dan semua orang pasti bilang waktu itu : inilah pemimpin kita. Semuanya mendengar pidato Bung Hatta dan mereka datang kesana. Dalam pidatonya waktu itu Bung Hatta mengatakan : "Kita ini bagaikan bendungan Asahan. karna bangsa ini kedepan membutuhkan energi yang banyak, kita perlu insinyur-insinyur listrik". lalu Dr Imaduddin Abdurrahim dan semua anak-anak kampung itu ingin menjadi insinyur listrik. Kenapa ? karna bung Hatta bilang bahwa di masa depan kita butuh insinyur listrik. dari pernyataan Bung Hatta itulah mereka rela melakukan perjalanan dari Medan menuju Bandung dan masuk sekolah listrik arus kuat. Padahal seluruh hidupnya dia belum pernah mengenal arus listrik kuat. Tapi efek kata-kata dari pemimpin negara sangat luar biasa. dan saat ini kita butuh pemimpin seperti itu.<div>Pak Anies Baswedan juga punya cerita tentang Pak Natsir, suatu hari pak Natsir naik kereta dari Bandung ke Jakarta. didalam kereta, pak natsir melihat orang tua, "pak Cokro ?" "Ya, saya Cokro", jawab orang yang ditanyai. Ternyata dai HOS Cokroaminoto, seorang tokoh pegerakan nasional. Pak Naysir kemudian berbincang-bincang, dari jati negara sampai gambir. dalam pembicaraan itu mereka tidak bicara tentang hal-hal berat. Yang diobrolkan itu adalah, apa belajarnya, dimana belajarnya. sejak pembicaraan itu, akirnya Natsir menjadi Natsir yang kita kenal sekarang. hanya dengan ngobrol dengan seorang Cokroamonoto semua terbuka. Pak Natsir mengatakan, kalau saya tidak ketemu HOS Cokroaminoto, tidak mungkin saya belajar bahasa-bahasa lain, menulis dan lainnya. Saya tidak menjadi Natsir sebagaimana orang mengenal saya. Kemungkinana besar saya tetap menjadi pemuda yang tidak berpendidikan.</div><div>Mari kita renungkan, seandainya para pemimpin negeri ini mau meluangkan waktunya untuk mengobrol dengan anak-anak muda. Ini akan berdampak luar biasa untuk generasi bangsa Indonesia.<br />Anak Bangsa ini telah lama telah krisis nasihat-nasihat dari para pemimpin. </div>
